Skip to content

Install Aplikasi Islami di Ubuntu

April 21, 2011

ZEKR

Aplikasi yang pertama akan kita bahas adalah Zekr. Bagi pengguna Sabily yang merupakan remaster dari Ubuntu versi Islam, pasti tidak asing lagi dengan program ini (kalau di linux kayanya lebih tepat disebut package deh :-D   )

Apa sih kerenya dari Zekr ini? Zekr bisa dibilang adalah aplikasi Al-Quran dalam Ubuntu. Kita bisa memilih surat mana yang ingin kita baca, sekaligus kita dengan murattalnya. Kemudian ada fasilitas terjemahan Quran juga dan tentu saja dalam bahasa Indonesia, jika kita sudah menginstall terjemahan bahasa Indonesianya. Pilihan murattalnya pun cukup banyak, kita bisa memilih mau mendengarkan secara online atau offline. Memang sih cukup berat juga mendwonload file offlinenya, untuk satu qori bisa mencapai lebih dari 500mb. Tapi kalau bandwith untuk download film aja bisa, masa untuk download hal yang lebih berguna dan bermanfaat kita ga bisa?

Pilihan sang qori (pembaca Quran-nya) yang bisa dipilih antara lain Syeikh Al-Ghamdi, Syeikh Al-Muaigly, Syeikh Al-Hudhaifi, Syeikh Al-Afasy, Syeikh As-Sudais, Syeikh Al-Minshawi, Syeikh Ash-Shuraim, Abdulbasit Abdussamad, Ash-Shatri, At-Tablawi, Syeikh Ali Basfar, Syeikh Jebril, Syeikh Ar-Refai, Syeikh Al-Husary, Syeikh Al-Akhdar, Syeikh Al-Ajmy, dan Syeikh Ibrahim Walk.

Cara installasinya pun mudah

1. Kita perlu install font arabic ketikkan pada terminal

sudo apt-get install zekr ttf-me-quran ttf-sil-scheherazade

2. Sebelum install Zekr, maka kita harus punya Java JREs yang sudah kompatibel. Misalnya belum ada silahkan install terlebih dahulu. Ketikkan

sudo apt-get install openjdk-6-jre

3. Nah sekarang saatnya menginstall Zekr. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan memakai synaptic package manager pada Ubuntu. Caranya buka system –> administration –> synaptic package manager. Maka anda akan diminta untuk memasukkan password anda. Setelah itu pada kotak search silahkan tulis zekr lalu enter. Untuk menginstall Zekr silahkan tandai untuk package ‘zekr’. Sekalian juga bisa menginstall bahasa, silahkan tandai juga untuk package ‘zekr-quran-translation-id-indonesian’. Lalu install

4. Setealh Zekr terisntall dengan sukses, saat untuk mendownload file murattal kalau kita tidak ingin mendengarkan secara online. Silahkan download di sini (tenang bukan jebakan betmen). Misalnya yang saya download dari Mishary Al-Afashy. Cara memasukkan file offlinenya adalah pada menu Tools –> Add –> Recitation (*.recit.zip) lalu pilih file yang baru kita install tadi. Kemudian pada menu Audio –> Recitation pilih Mishary bin Rashid Al-Afashy yang offline.

Untuk informasi lebih lanjut bisa membuka http://zekr.org

MINBAR

Minbar atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai mimbar, merupakan package yang fungsinya sebagai pengingat waktu shalat. Cara install sama dengan Zekr (ini yang versi gampangnya) yaitu menggunakan synaptic package manager. Silahkan search di synaptic ‘minbar’ kemudia tandai dan install

Untuk pengaturan silahkan buka preferences. Untuk ‘City Detail’ anda bisa memasukkan koordinat tempat anda berada. Jika tidak tahu silahkan anda cari referensinya di http://islamicfinder.org.

Namun sayang secara default Minbar belum menyediakan suara untuk adzan. Langkah berikutny adalah anda harus mendownload suara adzan. Apabila anda sudah punya, anda tidak perlu mendownload asalkan format filenya berekstensi .ogg. Sumber suara untuk adzan yang free license bisa anda download di sini. Setelah itu untuk mengaktifkannya, pada preferences pilih tab Athan, lalu masukkan file adzan yang anda punyai.

Jangan lupa dicentang pada bagian ‘Play Athan’ sehingga apabila sudah memasuki waktu shalat, maka suara adzan akan terdengar.

QIOO

QIOO merupakan singkatan dari Quran in Open Office. Bagi pengguna Jendela yang baru beralih ke linux mungkin akan terasa sulit untuk meninggalkan ms office karena belum terbiasa menggunakan open office. Tetapi percayalah hanya dengan membiasakan diri sedikit maka anda akan dapat mudah berinteraksi dengan versi office gratisan ini.

Dengan menginstall QIOO maka open office yang anda miliki sekarang mempunyai nilai tambah. Bagi para aktivis dakwah yang mau nulis ayat-ayat Quran atau bagi pengajar tahsin yang ingin menulis ayat-ayat Quran dengan adanya QIOO menjadi terfasilitasi. Karena tinggal klik-klik dikit maka ayat Quran pun langsung nongol dan kita bisa melanjutkan mengeik dengan open office word processor.

Cara install-nya simpel juga (apa sih yang ga simpel di Linux, hehehe (goodluck) ).

1. Kita  harus menginstal font “ScheherazadeRegOT”. Ketikkan pada terminal

sudo apt-get install zekr ttf-me-quran ttf-sil-scheherazade

atau bisa juga download manual di sini.

2. Setelah itu ketikkan pada terminal

sudo add-apt-repository ppa:sabily.team/ppa
sudo apt-get update
sudo apt-get install qioo

3. Buka open office lalu aktifkan CTL (Complex Text Layout) dengan cara “Tools->Option->Language Settings->Languages”, beri centang pada “Enabled for CTL(Complex Text Layout)” kemudian klik OK jika sudah selesai.

QIOO ini tidak hanya bisa menampilkan ayat Quran saja, tetapi bisa juga menampilkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

sumber : http://nicedaysblue.web.id

Solat Tanpa Sutrah

April 19, 2011

Sholat menghadap sutroh (penghalang), baik itu berupa dinding, tombak, rumah, bangunan, kendaraan, bebatuan merupakan sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang hukumnya wajib dikerjakan oleh umat Islam.

Sunnah ini telah banyak dan sering disepelekan oleh kamum muslimin. Realita seperti ini amat jelas terlihat di masjid-masjid kaum muslimin, terlebih lagi jika di bulan Romadhon, dan waktu-waktu sholat lainnya. Padahal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah lama mengajarkan kepada umatnya tentang wajibnya seseorang menggunakan sutroh (penghalang) yang menghalangi rusaknya sholat kita dari gangguan setan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,dan juga menghalangi orang yang lewat. Tak heran jika kebanyakan diantara kita tidak khusyu’ sholat, karena ia meninggalkan petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ini.

Meletakkan dan menggunakan sutroh telah dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka bahwa hukumnya wajib berdasarkan beberapa hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan atsar dari para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-.

Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ, فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

”Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutroh (penghalang), dan janganlah kamu biarkan ada seorang pun lewat di hadapanmu. Jika dia enggan (untuk dicegah), maka perangilah dia. Karena sesungguhnya orang itu disertai teman (setan).” [HR. Ibnu Khuzaimah (820). Hadits ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Talkhish Sifah Ash-Sholah (hal.7)].

Abi Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu anhu- berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إَذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا وَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا, فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يَمُرُّ فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ

“Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, maka hendaklah dia menghadap sutroh (penghalang) dan hendaklah dia mendekati sutroh tersebut. Janganlah membiarkan seorang pun lewat di antara dirinya dan sutroh itu. Jika masih ada seseorang yang lewat, maka hendaklah dia memeranginya. Karena sesungguhnya dia itu adalah setan.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2875), Abu Daud dalam sunan-nya (697) dan Ibnu Majah dalam sunan-nya (954). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (641 & 651)

Dari Sahl bin Abi Hatsmah -radhiyallahu anhu- dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لاَ يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat di hadapan sutroh (penghalang), maka hendaklah dia mendekatinya. Maka setan tidak akan memotong shalatnya.” [HR.Ahmad dalam Musnad-nya (4/2/no. 16134) dan Abu Daud dalam Sunan-nya (695), dan An-Nasa’iy dalam Al-Mujtaba (2/62/no.748). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (782)]

Al-Imam Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata dalam mengomentari hadits Abu Sa’id yang telah disebut di atas, “Di dalam hadits itu terkandung faedah bahwa memasang penghalang hukumnya wajib.” [Lihat Nailul Authar (3/2)]

Beliau juga berkata, “Kebanyakan hadits yang menerangkan perintah untuk memasang sutroh (penghalang) ketika shalat menunjukkan perintah wajib. Jika memang ada sesuatu yang bisa memalingkan perintah wajib itu menjadi perintah sunnah, maka itulah hukumnya. Akan tetapi tidak pantas dipalingkan perintah wajib tersebut oleh sabda Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berbunyi, “Karena sesuatu yang lewat di depan orang yang sholat tidak membahayakannya dalam sholatnya”, karena menjauhi sesuatu yang bisa mengganggu orang yang shalat dalam sholatnya dan bisa menghilangkan sebagian pahala sholatnya adalah wajib”. [Lihat As-Sailul Jarrar (1/176)].

Jadi, seorang yang meletakkan dan memasang penghalang di depannya saat sholat, maka sholatnya tak akan batal, dan tak akan rusak. Jika ada yang lewat, sedang orang yang sholat tersebut telah menghalanginya, maka sholatnya tak rusak, dan orang yang lewat berdosa.

Diantara perkara yang memperkuat kewajiban meletakkan penghalang ketika shalat, meletakkan sutroh (penghalang) di hadapan orang yang shalat menjadi sebab syar’i menghindari batalnya shalat, karena ada wanita baligh yang lewat, keledai atau anjing hitam yang lewat di hadapannya sebagaimana hal itu sah dalam hadits. Selain itu, menjadi sebab penghalang bagi orang yang mau lewat di depan orang yang menunaikan sholat, dan lainnya diantara hukum-hukum yang berkaitan dengan “sutroh” (penghalang di depan orang yang sholat). [Lihat Tamam Al-Minnah (hal.300)]

Oleh karena itulah, para salafush shaleh -radhiyallahu anhum- amat bersemangat dalam meletakkan sutroh (penghalang) ketika sedang mengerjakan shalat. Semua perkataan dan perbuatan mereka memberikan anjuran kepada kita untuk meletakkan sutroh (penghalang), bahkan bersifat perintah, serta pengingkaran terhadap orang yang shalat tanpa meletakkan sutroh (penghalang) di hadapannya.

Qurroh bin Iyas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

رَآنِيْ عُمَرُ وَأَنَا أُصَلِّيْ بَيْنَ أُسْطُوَانَتَيْنِ فَأَخَذَ بِقَفَائِيْ فَأَدْنَانِيْ إِلَى سُتْرَةٍ فَقَالَ: صَلِّ إِلَيْهَا

“Umar melihatku sedang shalat di antara dua tiang. Dia langsung memegang leherku dan mendekatkan aku ke sutroh (penghalang) sambil berkata, “Shalatlah menghadap sutroh (penghalang)”. [HR. Bukhariy dalam Shahih-nya (1/577) secara mu’allaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (7502)

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Umar melakukan hal ini dengan maksud agar shalatnya Qurroh bin Iyas menghadap sutroh (penghalang)”. [Lihat Fathul Bari (1/577)]

Ibnu Umar dia berkata,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا كَيْلاَ يَمُرَّ الشَّيْطَانُ أَمَامَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat, maka hendaklah dia shalat di hadapan sutroh dan mendekat kepadanya. Hal ini agar setan tidak lewat di hadapannya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (1/279/2877) dengan sanad yang shahih].

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “ Ada empat watak kasar: seseorang yang shalat tanpa meletakkan sutroh (penghalang) di hadapannya… atau dia mendengarkan adzan namun tidak menjawabnya”.[HR. Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra (2/285) dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (1/61)].

Coba perhatikan wahai saudara pembaca –semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepadaku dan kepadamu- bagaimana perintah-perintah ini datang dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- , yang tak pernah berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah ucapan beliau, kecuali wahyu yang diberikan kepadanya; perhatikan bagaimana beliau memerintahkan para sahabatnya sampai-sampai Sang Khalifah, Umar -radhiyallahu anhu- yang telah kita kenal pernah mendatangi seorang sahabat yang mulia, sedang ia shalat. Kemudian beliau memegang lehernya untuk didekatkan ke-sutroh (penghalang). Perhatikan pula Ibnu Mas’ud -radhiyallahu anhu-, beliau menyamakan shalat seseorang yang tidak meletakkan sutroh (penghalang) dengan mereka yang tidak menjawab panggilan adzan.

Anas -radhiyallahu anhu- dia berkata,

لَقَدْ رَأَيْتُ كِبَارَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَدِرُوْنَ السَّوَارِيَ عِنْدَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sungguh aku telah melihat para pembesar sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berlomba-lomba mendekati tiang penghalang ketika waktu maghrib sampai Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- keluar (dari rumahnya)”. [HR. Bukhari di dalam kitab Shahih-nya (481)].

Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- juga berkata,

كَانَ الْمُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ قَامَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَدِرُوْنَ السَّوَارِيَ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَذَلِكَ يُصَلُّوْنَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ

“Dahulu seorang muadzdzin jika usai adzan, maka para sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bangkit berlomba-lomba mencari tiang (untuk dijadikan sutroh, pent.) sehingga Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- keluar (dari rumahnya), sedang mereka dalam keadaan demikian melaksanakan sholat dua rokaat sebelum maghrib”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (599)]

Inilah sahabat Anas menceritakan tentang para sahabat; bagaimana mereka berebut untuk shalat dua raka’at sebelum maghrib di hadapan tiang masjid sebagai penghalang dalam waktu sangat sempit. Jika ada diantara mereka yang tak sempat mendapatkan tiang atau penghalang lainnya, maka mereka meminta kepada saudaranya agar membelakang sehingga punggungnya dijadikan sebagai penghalang.

Nafi’ (bekas budak Ibnu Umar) -rahimahullah- berkata,

كَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا لَمْ يَجِدْ سَبِيْلاً إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ قَالَ لِيْ: وَلِّنِيْ ظَهْرَكَ

“Apabila Ibnu Umar -radhiyallahu anhu- tidak lagi menemukan tiang masjid yang bisa dijadikan sutroh (penghalang) untuk shalat, maka dia akan berkata kepadaku, “Hadapkanlah punggungmu di hadapanku.” [HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf (1/250/no. 2878) dengan sanad yang shohih]

Abdur Rahman bin Abi Sa’id dari Bapaknya (Abu Sa’id Al-Khudriy) bahwa,

أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّيْ إِلَى سَارِيَةٍ فَذَهَبَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ أُمَيَّةَ يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَنَعَهُ فَذَهَبَ لِيَعُوْدَ فَضَرَبَهُ ضَرْبَةً فِيْ صَدْرِهِ

“Dia (Abu Sa’id Al-Khudriy) pernah sholat menghadap tiang masjid. Lalu mulailah seorang laki-laki dari Bani Umayyah berusaha lewat di depan beliau. Maka beliau mencegahnya. Kemudian orang itu kembali (melakukan hal itu), maka beliau memukul satu kali pada dadanya”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (817). Di-shohih-kan oleh Muhammad Mushthofa Al-A’zhomiy]

Yazid bin Abi Ubaid-rahimahullah- berkata,

رَأَيْتُهُ يَنْصِبُ أَحْجَارًا فِي الْبَرِّيَّةِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَّى إِلَيْهَا

“Aku melihat beliau (Salamah ibnul Akwa’ -radhiyallahu ‘anhu-) dulu menyusun batu-batu ketika di padang pasir. Jika beliau hendak mengerjakan shalat, maka beliau sholat menghadap kepadanya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (1/249/no. 2863)]

Di dalam atsar (berita yang berasal dari sahabat) ini tidak ada perbedaan, baik itu di padang pasir maupun di dalam gedung. Lahiriah hadits-hadits yang lalu, dan perbuatan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, semuanya memperkuat hukum wajibnya meletakkan sutroh (penghalang) ketika shalat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Imam Asy-Syaukaniy. [Lihat Nailul Authar (3/6)]

Al-‘Allamah As-Saffariniy –rahimahullahu- berkata, “Ketahuilah bahwa sholatnya orang yang mengerjakan sholat dianjurkan agar menghadap sutroh (penghalang) berdasarkan kesepakatan para ulama, walaupun ia tidak khawatir ada yang lewat; beda halnya Imam Malik.Dalam Al-Wadhih, Penulis menyebutkan sutroh secara muthlaq bahwa diwajibkan sutroh (penghalang) berupa dinding atau sesuatu yang tinggi. Sedang meletakkan sutroh lebih dicintai oleh Imam Ahmad [Lihat Syarh Tsulatsiyyat Al-Musnad (3/7860]

Pendapat yang mutlak lebih benar, sebab alasan yang dikemukakan untuk meletakkan sutroh (penghalang) dalam shalat, bukan hanya berdasar pada rasio, tanpa dalil. Pendapat yang menyatakan tak wajibnya sutroh, di dalamnya terdapat pelanggaran didasari oleh pendapat semata terhadap nas-nas yang mewajibkan meletakkan sutroh (penghalang) sebagaimana telah berlalu sebagiannya. Ini tentunya tidak boleh!! Terlebih lagi mungkin yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat bukan hanya jenis makhluk yang kasat mata, tetapi berupa setan. Perkara itu telah datang secara gamblang dari sabda, dan perbuatan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- [Lihat Tamamul Minnah (hal. 304)]

Setelah menyebutkan hadits-hadits yang menerangkan tentang perintah meletakkan sutroh (penghalang) ketika shalat, Ibnu Khuzaimah -rahimahullah- berkata, “Semua hadits-hadits ini berkualitas shahih. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memang telah memerintahkan umatnya agar meletakkan sutroh (penghalang) ketika shalat…Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengecam keras orang yang sholat tanpa menghadap sutroh. Bagaimana dilakukan sesuatu yang beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kecam sendiri”. [Lihat Shohih Ibnu Khuzaimah (2/27)]

Disebutkan dalam sebagian hadits bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sholat tanpa menghadap sutroh. Namun hadits ini tidak shohih, bahkan lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (5814). Adapun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sholat di Mina atau di tempat lainnya, tanpa menghadap bangunan, maka Syaikh Masyhur bin Hasan Salman -hafizhahullah- berkata menjawab hal ini, “Tidak adanya bangunan yang bisa dipergunakan sutroh (penghalang), sama sekali bukan berarti menghalangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk menggunakan sutroh (penghalang) lainnya ketika shalat. Sungguh telah ada penegasan hal ini di dalam hadits riwayat Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu-”. [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal. 82)]

Kemudian Syaikh Masyhur Hasan Salman -hafizhahullah- membawakan hadits dari Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- dia berkata,

يُصَلِّيْ بِمِنَى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- shalat dengan orang-orang di Mina dalam keadaan tidak menghadap dinding”. [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (no. 76, 861, 1857, dan 4412)]

Jangan dipahami bahwa hadits ini menjelaskan bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sholat, tanpa menghadap sutroh (penghalang). Bahkan beliau menghadap sutroh, sebab beliau bukan Cuma menggunakan dinding sebagai sutroh, tapi beliau juga menggunakan yang lainnya sebagai sutroh sebagaimana dalam riwayat dari Ibnu Abbas sendiri,

رَكَزْتُ الْعَنَزَةَ بَيْنَ يَدَيِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ وَصَلَّى إِلَيْهَا وَالْحِمَارُ مِنْ وَرَاءِ الْعَنَزَةِ

“Aku menancapkan tombak kecil di hadapan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- , ketika sedang berada di Arafah dan beliau shalat menghadap kepadanya. Sedangkan keledai lewat di belakang tombak kecil itu”. [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (1/243) Ibnu Khuzaimah di dalam Ash-Shahih (840). Hadits ini dikuatkan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (2175)]

Al-Imam At-Turkumaniy-rahimahullah- berkata, “Tidak adanya dinding tidaklah mengharuskan tidak adanya sutroh (penghalang) lain”. [Lihat Al-Jauhar An-Naqiy (2/243)]

Jadi, jelaslah kekeliruan orang yang sholat tanpa ada penghalang di depannya, sekalipun aman dari orang yang akan lewat di hadapannya ketika shalat, atau ia sedang berada di tanah lapang; tak ada bedanya antara Makkah dan selainnya dalam perkara-perkara sutroh (penghalang) secara mutlak. [Lihat Ahkam As-Sutroh fi Makkah wa Ghoiriha (hal. 42-48)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 97 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

[Part 1]Proyek Dekonstruksi Al-Qur’an, dari Orientalisme hingga Liberalisme

April 11, 2011

Oleh : Akmal Sjafril, M.Pd.I

Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada kitab atau bacaan yang mampu menandingi al-Qur’an dalam memberikan pengaruh kepada umat manusia. Al-Qur’an bukan hanya dijadikan pegangan hidup, namun juga dihapal secara teliti oleh umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya dihapalkan poin-poin penting dan inti ajarannya, bahkan panjang-pendeknya bacaan dalam al-Qur’an pun diseragamkan oleh setiap Muslim dari Maroko hingga Merauke. Lebih dari sekedar dihapalkan, ayat-ayat dalam al-Qur’an pun ditelusuri hingga asbabun nuzul-nya (latar belakang diturunkannya sebuah ayat), meskipun tidak semua ayat diriwayatkan asbabun nuzul-nya. Inilah kitab yang membuat para penyair terpukau dan para ilmuwan tercengang.1 Hingga detik ini, ilmu-ilmu al-Qur’an (‘ulumul Qur’an) masih terus digali dan masih saja menghasilkan temuan-temuan yang menakjubkan.

Para ulama telah menjelaskan definisi dan batasan al-Qur’an tersebut dalam berbagai karyanya, salah satunya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuniy:

Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad saw penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril, ditulis dalam mushhaf-mushhaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.2

Karakter al-Qur’an sebagai mukjizat mengimplikasikan bahwa kitab ini senantiasa menghadapi perlawanan sejak pertama kali diturunkan. Sebab, “mu’jizat” itu sendiri memiliki makna “sesuatu yang menetapkan kelemahan”. Dengan kehadiran mukjizat, maka apa yang di hadapannya pun menjadi lemah, sebagaimana mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa as mampu menaklukkan segala tipu daya para ahli sihir Fir’aun. Keistimewaan al-Qur’an adalah karena ia masih ada bersama kita, bahkan Allah sendiri yang menjamin kelestariannya3, dan dengan demikian, sifat mukjizat yang melekat padanya pun masih berlaku, sehingga al-Qur’an terbukti mampu menghadapi berbagai tantangan dan fitnah yang ditujukan kepadanya hingga berabad-abad lamanya sejak wahyu terakhir diturunkan.

Read more…

[Part 2]Proyek Dekonstruksi Al-Qur’an, dari Orientalisme hingga Liberalisme

April 11, 2011

Sekularisme

Sementara para teolog Kristen berjibaku menyerang al-Qur’an, peradaban Barat-Kristen juga mengalami perkembangan tersendiri. Pada abad pertengahan, pusat pemerintahan Kepausan berhasil dipusatkan di Roma. Meskipun pada saat itu Eropa terbagi ke dalam sejumlah negara, namun kekuasaan absolut sebenarnya bukan di tangan raja-raja, melainkan di tangan Paus, sebab Paus itulah yang punya hak untuk mengangkat raja-raja. Bahkan dalam beberapa kasus, Paus pun sanggup mencopot gelar raja dan mengucilkannya.

Kekuasaan absolut Gereja memicu lahirnya berbagai penyimpangan di tubuh Gereja, bahkan lembaga Kepausan itu sendiri. Beberapa Paus terbukti mendapatkan kedudukannya dengan bersekongkol bersama sejumlah Kardinal yang korup, bahkan ada Paus yang merebut posisi dengan membunuh Paus pendahulunya. Sejumlah Paus memiliki catatan kelam, seperti memiliki anak di luar nikah, berhubungan dengan pelacur, bahkan pada satu titik dalam sejarah, para pelacur itulah yang secara de facto menguasai Kepausan. Sejumlah ‘Paus tandingan’ atau Anti-Paus (anti-Pope) bermunculan sebagai rival dari Paus yang berkuasa di Roma. Sementara itu, ada juga Paus yang dinyatakan kafir dan sesat oleh penerusnya karena terbukti melakukan berbagai penyimpangan, bahkan mayatnya diambil dari makamnya untuk kemudian didudukkan sebagai terdakwa dan diadili layaknya orang yang masih hidup.1

Pada masa-masa ketika hegemoni Gereja mencapai puncaknya, lahirlah institusi yang bernama Inkuisisi (inquisition). Lembaga ini mendapat otoritas penuh dari Gereja untuk melakukan tindakan-tindakan represif dalam memaksakan pertumbuhan agama Kristen. Saat itu, Inkuisisi dapat begitu saja memerintahkan pembunuhan, bahkan penyiksaan, kepada orang-orang yang menolak untuk dikristenkan. Pada perkembangannya, Inkuisisi juga menjadi semacam lembaga peradilan untuk segala hal yang berkaitan dengan fatwa Gereja. Sekitar 85 persen dari korban Inkuisisi adalah kaum perempuan, dan diperkirakan dalam kurun waktu 350 tahun (1450-1800 M) sudah terdapat sekitar dua hingga empat juta perempuan yang dibakar hidup-hidup di seluruh Eropa. Inkuisisi juga diberi hak untuk mengeksekusi masyarakat Kristen yang menolak untuk mengikuti fatwa Gereja. Inilah yang menyebabkan pertentangan antara Gereja dan kaum cendekiawan, hingga mengakibatkan para ilmuwan seperti Galileo mendapat tekanan kuat dari Gereja, semata-mata karena fakta-fakta sains yang ia temukan berlawanan dengan pendapat Gereja. Dalam pekerjaannya, Inkuisisi menggunakan berbagai peralatan dan metode yang diciptakan secara khusus untuk menyiksa manusia, misalnya pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, penggergajian tubuh, pemotongan lidah, peremukan kepala, pengeboran vagina dan sebagainya.2

Protestanisme lahir sebagai respon dari tindakan-tindakan korup yang dilakukan oleh Gereja. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther menempelkan 95 poin pernyataannya pada pintu gerejanya di Jerman. Dalam 95 poin tersebut, ia menentang berbagai penyimpangan di Gereja, terutama praktik penjualan ‘pengampunan dosa’ (indulgences) oleh para pemuka Gereja. Martin Luther bahkan sampai menyebut Paus sebagai anti-Kristus itu sendiri. Pada tahun 1521, Martin Luther dikucilkan oleh Gereja Katolik, namun ia mendapat perlindungan oleh seorang penguasa Jerman dan akhirnya mengembangkan Gerejanya sendiri, terlepas dari kekuasaan Paus.3

Aspek-aspek teologi Kristen memberikan kesulitan tersendiri bagi para pemuka Gereja. Selain karena sebagian kandungan Bibel mengandung berbagai kontradiksi, baik antara ayat yang satu dengan ayat lainnya maupun antara Bibel dengan fakta-fakta sains4, konsep-konsep yang diajarkan dalam agama Kristen pun tak mudah untuk dijelaskan. Untuk memecahkan kebuntuan dalam menjelaskan konsep ketuhanan Trinitas ini, St. Anselm menulis Cur Deus Homo, St. Augustine menulis de Trinitate dan akhirnya mengumandangkan slogan “Credo ut intelligam!” (aku percaya supaya aku bisa mengerti). Tertullian kemudian mengajukan slogan yang senada, yaitu “Credo quia absurdum!” (aku beriman justru karena doktrin tersebut tak masuk akal). Dalam penelusurannya, Dr. Syamsuddin Arif menjelaskan makna kata “absurdum” dalam kamus Latin-Inggris, yaitu mencakup makna-makna irrational (tidak masuk akal), senseless (tak bermakna), against reason or common sense (menyalahi logika dan pengertian umum), clearly false or foolish (jelas-jelas keliru dan bodoh), serta ridiculous (menggelikan). Pada akhirnya, St. Jerome sendiri mengakui betapa sulitnya mengimani teologi Kristen, hingga ia menyatakan “De mysterio Trinitatis recta confessio est ignoratio scientia” (misteri Trinitas hanya dapat diimani dengan mengakui bahwa kita tidak bisa memahaminya).5

Dr. Adian Husaini dalam bukunya Wajah Peradaban Barat menyimpulkan bahwa peradaban Barat-Kristen memilih jalan hidup sekuler paling tidak karena tiga faktor yang berkaitan sepenuhnya dengan agama Kristen itu sendiri. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di abad pertengahan. Kedua, problem teks Bibel. Ketiga, problem teologis Kristen.6

Pada akhirnya, Gereja Katolik dipaksa untuk menerima kehadiran Protestanisme, yang selanjutnya berkembang luas menjadi berbagai aliran yang prosesnya tak bisa dicegah lagi. Baik Katolik maupun Protestan bukan hanya mengaku kalah pada arus sekularisme yang mencabut otoritas agama dari wilayah sosial dan politik, namun para pemuka agama Kristen pun dipaksa untuk mengikutinya dengan mencari-cari dalil yang bisa digunakan untuk mengatakan bahwa sekularisme adalah bagian dari ajaran Kristen itu sendiri.7

Read more…

Ujian Kesabaran, Ibarat Menanti Hujan Reda

April 20, 2010

Di saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga puluh jam lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian kesabaran itu.

Banyak orang mengatakan, kesabaran ada batasnya. Bila ujian kesabaran diibaratkan dengan menanti hujan reda, apakah orang akan menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang tengah menerpa bumi? Sedang hujan hanyalah merupakan makhluk ‘pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan rintihan kekesalan orang. Ia mengguyur ke bumi atas perintah-Nya. Tak peduli orang mengeluh kesal kepadanya, atau bahkan memaki akan kedatangannya yang tak kunjung pergi.

Sayangnya, hujan terlalu biasa untuk dikeluhkan orang. Di awal kedatangannya, orang akan nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah menunjukkan betapa awal ujian kesabaran itu sudah terpatahkan oleh rasa tidak bersyukurnya akan turunnya nikmat hujan.

Belum lagi di benaknya masih membayangkan bagaimana nasib jemuran bajunya di rumah. Sudah pasti akan basah kuyub, setelah sebelumnya tak sempat ‘diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana nasib kendaraannya yang berkilau lantaran baru dicuci kemarin sore, lagi-lagi harus terkena cipratan air hujan yang bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah.

Ini baru contoh sederhana, belum contoh-contoh lain yang amat menguji kesabaran. Misalnya ketika urusan duniawi yang menurutnya sangat urgen untuk segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda lantaran hujan.

Di saat air hujan semakin deras mengguyur, tak kunjung reda, saat inilah kesabaran orang benar-benar berada di titik kulminasi. Terbayang di benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan duniawinya banyak yang terbengkalai. Saat itu juga, emosi kian tak terbendung. Umpatan-umpatan kekesalan pun keluar dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan, seolah hujan adalah makhluk serupa dengannya.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“(QS Al A’raaf 57)

Hujan diturunkan sebagai pembawa berita gembira, namun yang terjadi justru malah sebaliknya. Orang malah berkeluh kesah dengan hadirnya hujan. Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya hujan tengah menghambat urusan duniawinya. Tidak tahukah orang, untuk apa hujan diturunkan?

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS An-Nahl 65)

Bayangkan jika hujan tidak diturunkan ke bumi, tidak akan mungkin ada kehidupan di sini. Bumi akan mengering, dan semua makhluk hidup akan mati. Dalam ayat lain Allah juga berfirman.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10)

Hujan yang membawa berkah, menghidupkan serta menyuburkan tanaman-tanaman yang hijau lagi banyak buahnya. Inilah ibarat ujian kesabaran itu, layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran yang teramat berat, terlebih ketika harus merelakan hal-hal yang menyangkut duniawi.

Hujan yang dinyana sebagai penghambat pada urusan duniawi, sesungguhnya merupakan berkah dari-Nya. Kehadirannya akan menghijaukan tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan mata air yang jernih yang sangat bermanfaat bagi semua makhluk yang hidup di bumi ini.

Demikian halnya dengan ujian kesabaran itu. Meski dinyana sebagai sesuatu yang pahit dirasa, atau bahkan berat didaki, namun sesungguhnya Allah akan menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS Ali Imran 142)

Ujian dari Allah tak hanya berupa kesedihan, tapi juga mencakup kebahagiaan. Sayangnya, ketika orang diuji dengan kebahagiaan, orang lupa jika itu hanyalah sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah berpikir bahwa itu adalah keberuntungan. Padahal, keberuntungan di dunia ini hanyalah merupakan tipuan.

لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadiid 23)

Seperti halnya ketika menanti hujan reda. Meski hujan mengguyur deras, tak kunjung reda, hingga menyebabkan banjir, tanah longsor ataupun bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa tiap-tiap orang yang beriman. Bagaimanapun hujan adalah berkah dari-Nya, meski kehadirannya terkadang mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para hamba-Nya agar bersyukur.

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِراً عَلِيماً

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisaa’ 147)

Maka bersabarlah, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Ujian kesabaran itu ibarat menanti hujan reda. Terasa lama untuk dinanti redanya, hingga  terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak memberi mudharat pada urusan duniawi.

Namun, tidak bagi orang-orang yang bersabar. Ia akan memaknai hujan sebagai berkah dari-Nya, berapapun lamanya dan banyaknya curah hujan yang diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia akan tetap bersabar, karena di balik ujian pastilah mengandung hikmah.

Dan semestinyalah, orang-orang yang beriman akan mengambil hikmah di balik cobaan itu. Ia akan senantiasa bersabar dan bersyukur di kala sedih ataupun bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan ujian dari-Nya, agar nyatalah siapa sesungguhnya hamba-hamba-Nya yang terpilih itu.

Sumber :

Majelis Tafsir Al Qur’an

http://mta-online.com

Rusaknya Akhlaq Membawa Kehancuran Bangsa

April 12, 2010

Seorang cendekiawan muslim yang terkenal “Imam Asy-Syauki” mengatakan, mengatakan :  “Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaqnya, bila rusak akhlaqnya maka rusaklah bangsa itu”

وَ اِنَّمَا اْلاُمَمُ اْلاَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ    فَاِنْ هُمُوْ ذَهَبَتْ اَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

Apabila akhlaqnya rusak, maka rusaklah bangsa itu”. Perlu kita cermati ucapan tersebut, serta kita perhatikan tanda-tanda rusaknya akhlaq berdasarkan petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW dan Allah SWT, antara lain :

1. Banyaknya kejahatan dan perbuatan jahat, serta merosotnya nilai keislaman pada bangsa itu. Rasulullah SAW bersabda,

اِنَّ اْلفَحْشَ وَ التَّفَحُّشَ لَيْسَا مِنَ اْلاِسْلاَمِ فِى شَيْءٍ وَ اِنَّ اَحْسَنَ النَّاسِ اِسْلاَمًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. الترمذى

Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam, dan bahwasanya orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya.” [HR. Tirmidzi]

2. Suka berdebat.

Ujung-ujungnya hawa nafsu yang akan menguasai dirinya, sedangkan hawa nafsu itu akan mengarah kepada kejahatan.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf : 53].

Rasulullah SAW bersabda,

ذَرُوا اْلمِرَاءَ فَاِنَّ اَوَّلَ مَا نَهَانِى عَنْهُ رَبّى بَعْدَ عِبَادَةِ اْلاَوْثَانِ اْلمِرَاءُ. الطبرانى

“Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama kali disampaikan kepadaku oleh Tuhanku setelah menyembah berhala adalah perdebatan.” [HR. Thabrani]

3. Penyakit dengki dan suka permusuhan serta hilangnya rasa kasih sayang.

Sabda Rosululloh  SAW,

عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: دَبَّ اِلَيْكُمْ دَاءُ اْلاُمَمِ قَبْلَكُمْ. اَلْبَغْضَاءُ وَ اْلحَسَدُ، وَ اْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ، لَيْسَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ، وَ لكِنْ حَالِقَةُ الدّيْنِ، وَ الَّذِىْ نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا، وَ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا. اَلاَ اُنَبّئُكُمْ بِمَا يُثْبِتُ لَكُمْ ذلِكَ؟ اَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ. البزار باسناد جيد

Dari Ibnu Zubair RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjangkiti kepada kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian. Yaitu kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Bukan pencukur rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa memantapkan kalian pada yang demikian itu ? Yaitu tebarkanlah salam diantara kalian”. [HR. Al-Bazzar dengan sanad jayyid]

Kalau kita perhatikan petunjuk-petunjuk di atas, tanda-tanda rusaknya akhlaq bangsa ini sudah nampak jelas, dari kalangan bawah sampai kalangan atas, bahkan para wakil rakyat yang mulia pun sudah menunjukkan rusaknya akhlaq pada mereka.

Disaksikan jutaan mata, baik rakyat Indonesia sendiri, maupun mata dunia, tawuran dalam persidangan dan sesekali terdengar suara seperti urakan (orang-orang yang tidak berpendidikan), sudah tidak ada rasa malu lagi, walaupun sangat memuakkan dan memprihatinkan bagi rakyat bangsa ini yang melihatnya.

Tawuran antar mahasiswa/rakyat dengan aparat penegak hukum (polisi, kejaksaan, dan satpol PP) terjadi dimana-mana. Korupsi yang dilakukan oleh Bupati, Gubernur, Lembaga Tinggi Negara dan mafia peradilan merupakan kejahatan yang kita saksikan lewat layar kaca, sudah menjadi hal yang biasa.

Yang kita saksikan semua itu menunjukkan telah rusaknya akhlaq bangsa ini, dan kalau kita tidak menyadari, kehancuran bangsa ini tinggal tunggu saatnya saja.

Mari kita perhatikan petunjuk Allah dalam QS. Al-Israa’ : 16,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

yang artinya “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah/para pejabat tinggi negara di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya“.

Oleh karena itu marilah kita bangun akhlaq bangsa ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya agar bangsa ini selamat dari kehancuran yang tidak kita inginkan bersama. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini dengan petunjuk-Nya, aamiin.

Diambil dari : Majelis Tafsir Al Qur’an (http://www.mta-online.com)

‘ABBAD BIN BISYR r.a – “Ahli Tahajud yang Gagah Berani”

September 5, 2009

sumber  : arrahmah.com

tahajudku

tahajudku

Pada perang Dzatu r-Riqo’ ada suatu peristiwa yang patut kita renungkan kemudian kita tiru. Peristiwa itu adalah mengenai seorang shohaby mulia ‘Abbad bin Bisyr radliyallahu ‘anhu. Shohaby yang penuh kesahajaan hingga Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam pun turut memintakan ampun baginya. Lalu siapakah dia? Mari kita selidiki sekilas tentang tokoh mulia ini…

‘ABBAD bin Bisyr, adalah seorang shohaby yang tidak asing lagi dalam sejarah dakwah Islamiyah. Ia tidak hanya termasuk di antara para ‘abid (ahli ibadah), bertaqwa, dan menegakkan sholat tahajud setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur’an, tapi juga tergolong kalangan para pahlawan, yang gagah berani, dalam menegakkan kalimah Alloh. Tidak hanya itu, ia juga seorang penguasa yang cakap, berbobot, dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum Muslimin.

Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, ‘Abbad bin Bisyr Al-Asyhaly Al-Anshory masih muda. Kulitnya yang bagus dan wajahnya yang rupawan memantulkan cahaya kesucian. Dalam kesehariannya dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap dewasa layaknya orang yang sudah dewasa, kendati usianya belum mencapai dua puluh lima tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang da’i dari Makkah, yaitu shohaby Mus’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhu. dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh. ‘Abbad mulai belajar membaca Al-Qur’an kepada Mus’ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Begitu senangnya membaca kalamulloh, sehingga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulangnya siang dan malam, bahkan dijadikannya suatu kewajiban. Karena itu dia terkenal di kalangan para shohabat sebagai imam dan pembaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan sholat lail di rumah ‘Aisyah radliyallahu ‘anhu yang berdempetan dengan masjid Nabawi. Terdengar oleh beliau suara ‘Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya.

“Ya ‘Aisyah, suara ‘Abbad bin Bisyr-kah itu?” tanya Rosululloh.

“Betul, ya Rosululloh!” jawab ‘Aisyah.

Rosululloh berdo’a, “Ya Alloh, ampunilah dia!”

‘Abbad bin Bisyr selalu turut berperang bersama-sama Rosululloh dalam setiap Ghozawatu r-Rosul (peperangan yang dipimpin Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam). Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa Al-Qur’an. Ketika Rosululloh kembali dari peperangan Dzatu r-Riqo’, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan kaum Muslimin di lereng sebuah bukit.

Waktu itu, seorang prajurut muslim menawan seorang wanita musyrik yang ditinggal pergi oleh suaminya. Ketika suaminya datang kembali, istrinya sudah tiada. Dia bersumpah dengan Latta dan ‘Uzza akan menyusul Rosululloh dan pasukan kaum Muslimin, ia tidak akan kembali kecuali setelah menumpahkan darah di antara para shohabat.

Setibanya di tempat pemberhentian di atas bukit, Rosululloh bertanya kepada para shohabat, “Siapa yang bertugas jaga malam ini?”

‘Abbad bin Bisyr dan ‘Ammar bin Yasir –rodhiyallohu ‘anhuma- berdiri, “Kami, ya Rosululoh!” kata keduanya serentak. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjadikan kedua-nya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.

Ketika keduanya keluar ke mulut jalan (pos penjagaan), ‘Abbad bertanya kepada ‘Ammar, “Siapakah di antara kita yang berjaga lebih dahulu?”

“Saya yang tidur lebih dahulu!” jawab ‘Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan.

Suasana malam kala itu tenang, sunyi dan nyaman. Bintang gemintang, pohon-pohon dan bebatuan, seakan-akan bertasbih memuji kebesaran Alloh. Hati ‘Abbad tergiur hendak turut melakukan ibadah. Dalam sekejap, ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dalam sholat. Nikmat sholat dan tilawah berpadu menjadi satu dalam jiwanya.

Dalam sholat lail itu dibacanya surat Al-Kahfi dengan suara memilukan, merdu bagi siapa pun yang mendengarnya. Ketika ia sedang bertasbih dalam cahaya Ilahi yang meningkat tinggi, tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya, seorang laki-laki datang memacu langkah tergesa-gesa. Laki-laki itu melihat dari kejahuan seorang hamba Alloh sedang beribadah di mulut jalan, dia yakin Rosululloh dan para shohabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang sedang sholat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Penyusup itu segera menyiapkan anak panah dan memanah ‘Abbad tepat mengenainya. ‘Abbad mencabut panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam lagi dalam sholatnya. Orang itu memanah lagi dan mengenai ‘Abbad dengan jitu. ‘Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama. Kemudian orang itu memanah lagi. Lagi-lagi ‘Abbad mencabutnya dan tetap larut dalam munajah-nya.

Ketika tiba giliran jaga saudaranya, ‘Ammar, ‘Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang terlelap tidur lalu membangunkannya seraya berkata, “Bangun! Aku terluka parah dan lemas!”

Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri. ‘Ammar menoleh kepada ‘Abbad. Dilihatnya darah mengucur dari tiga buah lubang di tubuh ‘Abbad. “Subhanalloh! Mengapa kamu tidak membangunkanku ketika anak panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.

Aku sedang membaca Al-Qur’an dalam sholat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Alloh, kalaulah tidak karena takut menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rosululloh, menjaga mulut jalan tempat kaum Muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus dari pada memutuskan bacaan dalam sholat tahajudku,” jawab ‘Abbad.

Ketika perang dalam rangka memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu Bakar radliyallahu ‘anhu, kholifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah al-Kadzdzab. ‘Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam ketentaraan tersebut.

Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran, ‘Abbad berpendapat kaum Muslimin tidak akan menang karena kaum Muhajirin dan kaum Anshor saling menyerahkan urusan satu sama lain. Bahkan mereka saling menbeci dan saling mencela. ‘Abbad yakin kaum Muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan kondisi pasukan yang tidak kompak itu. Kecuali bila kaum Ashor dan Muhajirin membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh.

Sebelum pertempuran yang menentukan itu dimulai, ‘Abbad bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah dia melihat langit terbuka. Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri ke dalam dan mengunci pintu. Ketika Shubuh tiba, ‘Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu Sa’id Al-Khudriy. “Demi Alloh, itu seperti benar-benar kejadian, hai Abu Sa’id!” ujarnya.

Ketika perang mulai berlangsung, ‘Abbad naik ke suatu bukit kecil seraya berteriak, “Hai kaum Anshor, berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu! Pecahkan sarung pedang kalian! Jangan tinggalkan Islam terhina atau tenggelam, niscaya bencana menimpa kalian!”

‘Abbad mengulang-ulang seruannya, sehingga sekitar empat ratus prajurit berkumpul di sekelilingnya. Di antara mereka terdapat perwira seperti Tsabit bin Qois, Al-Barro’ bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam.

‘Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah al-Kadzdzab terdesak mundur dan melarikan diri ke “Kebun Maut”.

Di sana, dekat pagar tembok “Kebun Maut”, ‘Abbad gugur sebagai syahid. Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka bekas pedang, tusukan lembing, panah yang menancap dan lainnya. Para shohabat hampir tak mengenalinya, kecuali setelah melihat-lihat beberapa tanda di bagian tubuhnya yang lain. Semoga Alloh memberikan pahala kepadanya dengan Jannatu l-Firdaus seperti para syuhada’ lainnya. Amin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.